Krisis yang tak kunjung selesai membuat saya kembali lagi berpikir tentang eksistensi suatu 'negara', tentu konteksnya Indonesia. Sementara negara-negara lain sudah lari, Indonesia masih belajar berjalan. Kalau dipikir-pikir secara sederhana dan cepat, apa yang membentuk suatu 'negara' ? Satu, geografis tentu; dua, sumber daya manusia; tiga, sistem filosofi negara; dan empat, sistem pemerintahan.
Geografis bukanlah determinan utama. Sejarah menunjukkan bahwa keunggulan atau kemajuan suatu bangsa bukan ditentukan oleh besar atau kecil, ada sumberdaya alam atau tidak. Sumberdaya manusia, saya kira Indonesia tidak ketinggalan secara individu. Tapi secara kolektif atau sistem pemberdayaan kolektif mungkin benar. Sistem filosofi negara, Pancasila... Saya kira Soekarno tidak membuat kesalahan dengan hal tersebut. Yang terakhir, sistem pemerintahan... -ini yang dengan mudah terlihat- sering menjadi kambing hitam. Saya, semua orang, termasuk SBY-JK, tentu berandai-andai untuk mempunyai solusi. Saya yakin tidak ada rumusan solusi yang ces pleng... sampai batas-batas tertentu dapat dipastikan bahwa aksi lebih berarti dibanding rumusan -praksis. Berantas korupsi, tetapkan deregulasi, ciptakan budaya politik yang sehat, dan sebagainya. Pasti ada perubahan jika dilakukan konsisten (ini yang sulit) dan didukung oleh mayoritas rakyat/partai/golongan, dsb... dan memang inilah yang tersulit. Orang Indonesia terbiasa untuk individual, tidak melihat kepentingan yang lebih luas... Apakah "ikatan"nya sehingga orang-orang Indonesia dapat bersatu padu? karena kita melihat terlalu banyak kepentingan individu, golongan. Baik itu atas nama ketenaran, kekayaan pribadi, partai bahkan agama.
Artikel kompas Sabtu 1 Oktober memberikan perspektif yang kontekstual dengan memberikan label ekstrim sebagai model dari sistem filosofi dan pemerintahan suatu negara, yaitu setan-setan egoistis yang rasional dalam "Bangsa-bangsa Setan" dan Universalitas Lunak. Immanuel Kant berjudul Zum Ewigen Frieden atau Menuju Perdamaian Abadi, menunjukan kelemahan manusia untuk menjamin kelangsungan bernegara jika negara men-sahkan atau melandaskan sistem kenegaraannya berdasarkan kekuatan kelompok yang berbasiskan kebenaran absolut agama, moralitas atau kultur!
Mayoritas akan menekan minoritas atas nama kebenaran tersebut, dan pluralisme akan terberangus habis oleh doktrin puritan. Konflik akan selalu terjadi antara mereka, dan kehidupanpun makin menurun atau terombang ambing turun naik. Sebaliknya setan-setan kantian (demikian disebutkan oleh DR F Budi Hardiman, si penulis -entah apa disebutkan juga demikian di literatur tersebut), lebih dapat mengatur kehidupan bersosial dan bernegaranya karena mereka saling menjaga privasi pribadinya.
Buat Kant, setan-setan akan lebih pragmatis dibanding manusia yang religius karena setan pragmatis akan lebih mudah bersepakat dibanding manusia religius yang senang memaksakan kehendaknya dan terus bertengkar demi 'absolutisme' yang dianutnya.. Kontradiktif memang.... setan-setan lebih suka bersepakat, manusia lebih suka bertengkar. Membuat rukun setan melalui suatu sistem hukum dan administrasi adalah lebih masuk akal dibanding mengatur manusia-manusia religius bermoral......Buat setan kantian, moral dan politik bukan masalah karena mereka tidak bermoral... buat mereka politik adalah untuk mencapai mekanisme alam atau dalam istilah ekonomi "mekanisme pasar" sementara buat manusia antara moral dan politik sangat masalah. Politik untuk moral atau kebalikannya, itulah yang menyingkirkan rasionalitas.
Dan masih banyak hal menarik untuk menjadi "wacana" perbincangan tentang suatu "negara". Penulis di Kompas diakhir tulisannya menambahkan suatu "kondisi" untuk terciptanya "ruang" bagi moralitas dan religiositas tapi tidak saya lanjutkan disini. Tapi kembali kekonteks pembicaraan Indonesia, apakah Indonesia telah terjebak dalam kontradiksi kelompok-kelompok manusia religius? Kalau demikian adanya, praksis tak akan banyak berbicara..... Kita enggan menjadi setan (menjadi lebih pragmatis rasional), lebih memilih menjadi manusia adiluhung dengan moralitas tinggi....... (?) Oh.... Kant pasti sudah gila..........